Profesionalisme Apa Nepotisme

– oleh : M. Andi Isya’
Profesionalisme seorang Kepala Sekolah dapat membawa suatu lembaga pendidikan untuk maju tapi bagaimana sih profesionalisme seorang kepala sekolah sekarang apalagi untuk sekolah-sekolah swasta.
seorang kepala sekolah sangat berperan dalam membawa dan memajukan suatu lembaga pendidikan dan tak kalah pentingnya adalah sosok guru yang dapat membimbing / murobbi, sangat jarang kita temui guru seperti itu dizaman sekarang ini tapi kemurobbian seorang guru dapat dinilai dari segi profesionalitas guru tersebut.
seorang guru yang profesional adalah yang dapat menghidupkan kelas, mengelola kelas, bukan sebagai pengajar saja tapi lebih kepada membimbing. coba lah kita hilangkan persepsi guru zaman dulu yang hanya memberikan pelajaran saja tanpa harus mengetahui manajemen pembelajarannya, apa yang harus disampaikan, bagaimana cara penyampaiaanya, metodologi, penilaian, dll. kalau hal itu kita terapkan dizaman sekarang yang sudah otonomi pendidikan / KTSP teramat sangat tidak relevan sekali tapi hal itu dapat ditingkatkan dengan berbagai penataran-penataran yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru.
Kalau kita hubungkan dengan berhasil tidaknya suatu lembaga tentulah kepala sekolah sangat berperan dalam merekrut seorang guru yang profesional, karena itulah seorang kepala sekolah juga harus memperhatikan latar belakang pendidikan guru tersebut dan kesiapannya mengajar tetapi fenomena yang terjadi sekarang adalah profesionalisme guru dapat dikalahkan oleh nepotisme, bagaimana tidak seorang conceptual skill sekolah (kepala sekolah) lebih memilih saudaranya atau seseorang yang masih ada hubungan kerabat dengannya untuk menjadi guru walaupun background pendidikannya tidak relevan, nyarisnya lagi guru tersebut difasilitasi dengan jabatan yang tinggi padahal masih banyak guru yang lebih cocok untuk menduduki jabatan itu, tapi sekali lagi inilah fenomena yang terjadi di negara kita profesionalisme masih dikalahkan oleh nepotisme.
Apabila kinerja yang seperti ini diteruskan dan dibudidayakan di suatu lembaga maka saya berkeyakinan lembaga tersebut tidak akan dapat bertahan lebih lama, akan sedikit demi sedikit terkikis oleh perkembangan zaman.
Tidaklah seharusnya profesionalisme dikalahkan oleh nepotisme, seorang pemegang keputusan tertinggi sekolah haruslah mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, dan haruslah pandai dalam menseleksi dan menempatkan tiap SDM sesuai dengan kemampuan dan tingkatan pendidikan yang ditempuh individu tersebut.
Sumber : http://edu-articles.com/profesionalisme-apa-nepotisme/

Advertisements

Proses Keberhasilan Menemukan Makna Hidup

Bastaman (1996) menyatakan urutan pengalaman dan tahap-tahap kegiatan seseorang dalam mengubah penghayatan hidup tidak bermakna menjadi bermakna adalah proses keberhasilan. Proses keberhasilan menemukan makna hidup dikategorikan menjadi lima kelompok tahapan berdasarkan urutan-urutannya, yaitu :
a. Tahap derita
Pengalaman tragis dan penghayatan hidup tanpa makna.
b. Tahap penerimaan diri
Pemahaman diri dan pengubahan sikap.
b. Tahap penemuan makna hidup
Penemuan makna dan penentuan tujuan hidup.
d. Tahap realisasi makna Keikatan diri, kegiatan terarah, pemenuhan makna hidup.
e. Tahap kehidupan bermakna Penghayatan bermakna dan kebahagian.

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Komponen-komponen Makna Hidup

Kesadaran akan pentingnya makna hidup manusia tidak muncul begitu saja, namun didukung oleh beberapa komponen, Bastaman (1996) mendeteksi adanya enam komponen yang menentukan berhasilnya perubahan hidup tidak bermakna menjadi bermakna, sebagai berikut :
a. Pemahaman Diri (self insight)
Meningkatnya kesadaran akan buruknya kondisi pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan kearah kondisi yang lebih baik.
b. Makna Hidup (the meaning of life)
Nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi dan pengarah kegiatan-kegiatannya.
c. Perubahan-perubahan Sikap (changing attitude)
Dari yang tidak tepat menjadi lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup, dan musibah.
d. Keikatan Diri (self commitment)
Terhadap makna hidup yang ditemukan dan tujuan hidup yang ditetapkan.
e. Kegiatan Terarah (directed activities)
Upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi pribadi (bakat, kemampuan, dan keterampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna tujuan hidup.
f. Dukungan Sosial (social support)
Hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia membantu pada saat-saat yang diperlukan.
Berdasarkan sumbernya komponen ini dapat dikelompokkan menjadi 3 (Bastaman 1996), yaitu :
1. Kelompok Komponen Personal
Pemahaman diri dan pengubahan sikap.
2. Kelompok komponen sosial
Dukungan sosial.
3. Kelompok komponen nilai
Makna hidup, keikatan diri, dan kegiatan terarah.
Keenam unsur diatas merupakan proses yang integral dan dalam konteks mengubah penghayatan hidup tidak bermakna menjadi bermakna antara satu dengan yang lainnya tak dapat dipisahkan. Apabila kita menganalisa unsur-unsur tersebut terlihat bahwa seluruhnya lebih merupakan kehendak, kemampuan, sikap, sifat, dan tindakan khas insan, yakni kualitas-kualitas yang terikat dengan eksistensi manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keberhasilan mengembangkan penghayatan hidup bermakna dapat dilakukan dengan jalan menyadari dan mengaktualisasikan potensi berbagai kualitas insan (Bastaman, 1996).
Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Karakteristik Makna Hidup

Menurut Bastaman (1996) untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang makna hidup maka perlu diketahui karakteristiknya yaitu :
1. Unik dan Personal
Artinya apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu berarti bagi orang lain bahkan apa yang dianggap bermakna pada saat ini mungkin berbeda dalam waktu yang berbeda. Apa yang bermakna bagi kehidupan seseorang biasanya bersifat khas, berbeda dengan orang lain, dan mungkin berubah juga dari waktu ke waktu. Jadi, yang dimaksud unik dan personal adalah makna yang bersifat khas bagi individu dan mungkin khas untuk suatu kurun waktu.
2. Spesifik dan Konkrit
Artinya makna hidup ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari, dan tidak harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan idealistis, prestasi-prestasi akademis yang tinggi atau hasil-hasil renungan filosofis yang kreatif. Peristiwa sehari-hari pun dapat memberikan makna bagi kehidupan seseorang.
3. Memberi Pedoman dan Arah
Makna hidup seseorang akan memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, sehingga makna hidup seakan-akan menantang (challenging) dan mengundang (inviting) seseorang untuk memenuhinya. Makna hidup tidak mendorong (to pust, to meaning) kegiatan yang dilakukan oleh seseorang, tetapi menarik (to pull) atau seakan-akan memanggil seseorang untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.
Mengingat keunikan dan kekhususan ini, maka makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri karena makna hidup merupakan suatu hal yang sangat personal.
Selain ketiga karakteristik tersebut, logoterapi mengakui adanya makna hidup yang sifatnya mutlak (absolut), semesta (universal), paripurna (ultimate). Bagi orang yang kurang religius, alam semesta, ekosistem, pandangan filsafat dan ideologi tertentu memiliki nilai universal, dan paripurna, dan menjadikannya sebagai landasan dan sumber makna hidup, sedangkan bagi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, maka agama menjadi sumber makna hidup paripurna yang mendasari makna hidup pribadi (Bastaman, 1996).

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Definisi Makna Hidup

Makna hidup menurut Frankl (1984) adalah kesadaran akan adanya suatu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi oleh realitas. Makna hidup adalah hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga, dan diyakini sebagai sesuatu yang besar serta dapat dijadikan tujuan hidup. Makna hidup juga memberikan nilai khusus bagi seseorang.
Sedangkan menurut Ponty (dalam Brower, 1984) makna hidup adalah sebagai hal yang membuka suatu arah. Implikasinya di analogikan seperti warna yang tidak bisa membuka arah bagi yang buta, yang tertutup dalam penjara kegelapan.
Lain lagi dengan pendapat Adler (2004), mengatakan bahwa makna hidup merupakan suatu ‘gaya hidup’ yang melekat, mendiami, dan menjadi ciri khas individu dalam melakukan interpretasi terhadap hidupnya. Adapun ‘gaya hidup’ itu bersifat unik yang mana disebabkan karena perbedaan pola asuh setiap individu pada masa kanak-kanak.
Yalom (dalam Sundari, 2001), berpendapat bahwa makna hidup (meaning of life) adalah suatu pemeriksaan mengenai makna alam dunia, mengenai hidup atau hidup manusia yang sesuai dengan pola-pola yang koheren. Ditambahkan bahwa pengertian tentang makna hidup mengandung tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi.
Bastaman (1996) menyatakan bahwa makna hidup merupakan suatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga. Pengertian mengenai makna hidup menunjukkan bahwa didalamnya terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi. Maka hidup ini benar-benar terdapat dalam kehidupan itu sendiri, walaupun dalam kenyataannya tidak mudah ditemukan karena sering tersirat dan tersembuyi didalamnya. Bila makna hidup ini berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan bermakna dan berharga yang pada gilirannya akan menimbulkan perasaan bahagia.
Maka dapat disimpulkan bahwa makna hidup adalah hal yang dianggap penting oleh seseorang, dirasakan berharga, diyakini sebagai sesuatu yang sangat besar, dan dapat memberikan nilai khusus bagi seseorang, juga dapat dijadikan tujuan hidup.

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Pandangan rohaniahtentang tujuan hidup

Mitch Albom mengemukakan beberapa persoalan yang menarik dalam buku larisnya, “Selasa-selasa dengan Morrie” (“Tuesdays with Morrie”) mengenai seorang profesornya yang hampir mati. Kehidupan Albom sebagai pengarang sehingga masa itu sia-sia sahaja kerana beliau mengejari benda-benda yang dikatanya salah: rumah-rumah yang lebih besar, kereta-kereta SUV yang lebih besar, dan pendapatan yang lebih lumayan. Walau berapa besar pun, benda-benda tersebut tidak dapat mengisikan kekosongan hidupnya. Hakikat yang kita semua kena menghadapi adalah serupa dengan apa yang disedari oleh Morrie sewaktu beliau menghidapi penyakit Lou Gehrig, yakni dunia masih sama hijau dengan masa sebelum beliau menghidapi penyakit yang boleh membawa maut itu. Dunia tidak akan berhenti ataupun tamat kerana anda mati. Pengalaman profesor itu sentiasa menghantuinya yang mengamalkan penghidupan egosentrik. Albom belajar daripada Profesor Morrie bahawa makna hidup yang benar adalah untuk memberi, menyayangi dan berkongsi apa-apa yang anda ada, dan benda-benda ini diturunkan pula dari satu generasi ke satu generasi.
James Redfield memberi pandangan Zaman Baru (“New Age) terhadap makna hidup dalam bukunya, “Ramalan Celestine” (“The Celestine Prophecy). Beliau menyarankan bahawa makna hidup boleh ditemui dalam diri sendiri, melalui siri wawasan rohaniah peribadi. Kemudian, dalam bukunya yang dikarang bersama-sama dengan Michael Murphy bertajuk “Tuhan dan Alam Semesta yang Berkembang: Langkah yang berikut dalam Evolusi Peribadi” (“God and the Evolving Universe: The Next Step in Personal Evolution”) (2002), beliau menuntutkan bahawa kemanusian hampir-hampir dalam proses mengalami pertukaran kesedaran.
Sumber: http://ms.wikipedia.org/wiki/Makna_hiduphttp://ms.wikipedia.org/wiki/Makna_hidup

Pandangan penyokong transhumanisme tentang tujuan hidup

Transhumanisme merupakan lanjutan kepada humanisme. Serupa dengan humanisme, ia mengajukan bahawa kita harus mencari kebaikan manusia pada keseluruhnya. Tetapi ia juga menegaskan bahawa kita harus memperbaiki badan kita secara aktif melalui teknologi supaya dapat mengatasi had-had biologi seperti kematian, kelemahan fizikal, muatan ingatan, dan sebagainya. Mula-mulanya, ini bermakna kita semua harus menjadi manusia bionik, akan tetapi dengan kemunculan biokejuruteraan, pilihan lain telah disediakan. Oleh sebab itu, tujuan utama transhumanisme adalah untuk menjadikan manusia sebagai posmanusia (posthuman), iaitu waris kepada homo sapiens: homo ekselsior. Pencapaian matlamat yang terunggul ini sudah tentu akan dipergunakan untuk penduduk semasa sebelum mereka mengalami akibat-akibat kematian atau menjadi tua. Pandangan-pandangan yang serupa termasuk ekstropianisme dan ekstensi kehidupan. Oleh sebab itu, dari segi lima tafsiran yang dikemukakan pada permulaan rencana ini, makna hidup bagi penyokong transhumanisme adalah bahawa:
• hidup berasal daripada evolusi;
• sifat hidup merupakan apa sahaja yang kita menanggapnya melalui pencerapan saintifik dan pengukuran;
• manusia, dan apa yang dia akan berkembang terjadi, merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan;
• hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan merupakan keupayaan berbaik dengan orang lain dan pemajuan cara hidup kesemua manusia; adalah sangat penting bagi kita mengawalkan sifat kehidupan untuk memperbaiki sifat-sifat kita.

Sumber: http://ms.wikipedia.org/wiki/Makna_hiduphttp://ms.wikipedia.org/wiki/Makna_hidup